Sabtu, 23 Mei 2009

LA Streetball @ Surabaya, 23-24 May 2009




Well, this is not a reporting about basketball event. I don't like basketball, 'cause I can't play it well. It's just a coincidence. After worked at the office this afternoon, I went to Tunjungan Plaza to get my mom's cosmetic at one of cosmetic booth @ SOGO, TP4. On the way from parking area to enter SOGO, I heard noise from across the street, the valley area. It draw my attention and I can see red tents with sign "L.A. Lights", a cigarette brand.

I enter SOGO first to pick the cosmetic, then I decided to enter that valley area. Now I can see what the noise is all about. There is a basketball game, which name "LA Streetball". I just walking around to choose a good place to take picture with my pocket camera (which recently I always carry wherever I go). Here are some of my photos.. enjoy... not really good shot, 'cause I just used pocket camera, if only I have used my SLR camera :D





[ ... ]

Jumat, 22 Mei 2009

Kukira musim hujan telah berlalu...

Malam ini hujan lagi, padahal tadi siang panas terik. Kukira musim hujan telah berlalu, ternyata hujan masih turun, bahkan baru aja listrik mati (untunglah listrik hidup lagi, kalo tidak betapa merananya diriku tanpa listrik sambil menanti tamatnya baterai notebookku).

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa banyak postinganku mengenai hujan. Karena memang aku menyukai hujan. Lagu dengan topik hujan favoritku: lagu jadul "Rhythm of the Rain", dan lagu "I'm only happy when it rains" dari Garbage. Rintik hujan seakan menggantikan air mata, seperti yang kuingat di film Jepang "Tokyo Love Story" saat Rika memandang keluar jendela melihat hujan dan dia berkata "aku jadi terlihat seperti menangis"...
[ ... ]

Lapis legit nikmat pengganjal perut lapar

Setelah lama absen ngantor (karena keasyikan abisin waktu jalan-jalan), hari ini kusempatin ngantor beresin kerjaan. Tanpa terlebih dulu makan siang (karena di rumah ga tersedia makanan apapun, melasnya...), hanya makan pia kacang hitam yang tersisa, aku pun minjam sepeda motor tetangga (lagi-lagi melas, karena sepeda motor sendiri STNKnya lagi mati) dan berangkat ngantor.

Eh, ternyata di kantor ketiban rezeki nih, dalam rangka Ibunda bos lagi ultah, ada bagi-bagi spiku dan lapis legit. So, ikut kebagianlah diriku ini. Lumayanlah, ada pengganjal untuk perut ini hehe :)
[ ... ]

Slow internet connection during holiday

Sloooowww (only got GPRS), connect - disconnect, again and again, that's what happened on my internet connection for the last 2 (two) days. But this morning when I started to go online, I got HSDPA connection. Yeah, like usual, better connection on work days. So, I like work days :D ...
[ ... ]

Kamis, 21 Mei 2009

Ascension day of Jesus Christ

Today is a holiday for celebrating Ascension day of Jesus Christ. After spending almost all of my day in front my notebook, I went out to church this early evening. Like always, on holiday, the street is vacant, really nice, wish everyday like today.





Arrived late at the church, being on my own, sitting alone. The church is not so crowd. Following the praise and worship from the worship leader. The song "kalau bunyi sangkakala, kalau bunyi sangkakala..." made me shiver. Mr. Alex brought the preach today about His coming is being so near. So, better for us being aware... be faithful and be prepared...
[ ... ]

Dataran tinggi Dieng & Yoyakarta, penutup perjalanan.

Besoknya,benar seperti yang dibilang ko Agustinus, kakiku mulai terasa njarem, susah dibuat jalan apalagi jalan menurun. Sehari itu cuma jalan-jalan santai mengitari dataran tinggi Dieng, itu pun sudah ga bisa jalan cepat. Eh,hari itu terjadi kecelakaan lagi, mobil selip waktu jalan naik, sampai habis waktu berjam-jam.





Telaga Warna



Kawah Sikidang


Akhirnya balik ke basecamp, Zaidi sudah kembali dari Sumbing & mendengar ceritanya Sumbing benar-benar berat, bahkan orang se-expert dia pun ga mau kembali lagi kesana. Yah untunglah ga ikutan selain itu kondisi juga so pasti ga memungkinkan.

Sore itu kembali ke Yogyakarta, melewati Candi Borobudur, eh ada yang menyusup masuk manjat pagar. Sehabis mengantar Zaidi ke hotel, kami jalan kaki dari Malioboro sampai Kraton. Selama jalan-jalan ada sayup-sayup tedengar lagu "Yogyakarta "nya Kla Project, salah satu lagu favoritku. Waktu melewati alun-alun, terlihat di situ banyak muda-mudi yang lagi nongkrong, asyik sekali kayake.



Penyusup ke Candi Borobudur


Yogyakarta di malam hari


Graffiti


Kami menutup perjalanan dengan masuk ke mall tanpa membeli apapun. Sekeluar dari mall yang hampir tutup itu ada penyanyi jalanan, sesuai lirik lagu 'musisi jalanan mulai beraksi...'



Penyanyi jalanan
[ ... ]

Sindoro, perjalanan turun yang mengerikan

Setelah semalaman tidak bisa tidur karena kedinginan, pagi hari terusik karena ko Agustinus mau melanjutkan mendaki sampai puncak. Dia ngajakin diriku menerusin ndaki, ya benere pingin juga sih tapi berhubung kondisi yang ga memungkinkan jadi aku lebih milih tetap meringkuk dalam sleeping bag saja. Aku bilang kalo aku kedinginan dan dia minjami sweaternya. Ya emang bener-bener bodoh aku, dah tahu kalo aku ga kuat dingin, eh cuma bawa 1 jaket yang dah basah. Lalu aku terusin tidur yang semakin enak karena udara mulai menghangat dengan naiknya matahari. Maksud hati pingin capture sunrise tapi nggak deh, lebih enakan tidur.


Jalan menanjak menuju puncak yang mestinya kulalui

Matahari makin tinggi, so mulailah jemur2 sepatu &celana jeansku yahng basah. Akhirnya aku & Li Fang dipaksa bangun oleh Somar & Rofik. Setelah nemu cara menggantikan celana jeansku barulah aku berani keluar tenda. Mulailah aku mengcapture keadaan sekitar dengan kameraku. Untunglah porter kami, Somar & Rofik pintar memasak dan tersedia banyak makanan buat kami semua. Ga lama ko Agustinus & Zaidi dah kembali dari puncak & bergabung. Kami foto2 & makan bersama, setelah itu bongkar tenda.



Gunung Sumbing di pagi hari


Gunung Sumbing mulai tertutup awan dan kabut


Ngeceng dengan latar belakang Gunung Sumbing


Li Fang di dalam tenda


Mr. Zaidi & Ko Agustinus


Mr. Zaidi, Ko Agustinus & Somar


Mempersiapkan sarapan

Perjalanan turun pun dimulai. Kemarinnya aku dah ga bisa ngebayangin gimana turunnya, dan memang beneran. Hanya satu kata "ngeri"!! Rasanya seperti mau terjungkal ke bawah. Alhasil tertinggallah aku di belakang, tapi ko Agustinus kali ini juga mengawalku turun sampai aku merasa ga enak juga. Lama-kelamaan jempol kakiku menjadi sakit sampai serasa tak mampu menggunakan kaki lagi. Rasa-rasane pingin nangis aja, dan emang nangis, tapi ga sampe terisak-isak & cukup aku sendiri yang tahu :p

Habis cara turun dengan meluncur, akhire turun dengan berjalan mundur. Lalu Ko Agustinus menemukan cara, dengan memakai tongkat untuk menolongku, aku pegang ujung tongkat & ko Agustinus pegang ujung satunya. Akhirnya dengan cara itu nyampe jugalah di bawah jam 5 sore, yang paling akhir sampai.

Sementara berjalan turun banyak yang mulai manjat. Sampai di basecamp dah penuh sesak sepeda motor mungkin karena malam minggu. Dipikir-pikir seru juga daripada bermalam minggu hanya di mall. Abis gitu mandi dengan air yang sedingin es setelah 2 hari ga mandi, sungguh menyegarkan.

Mr. Zaidi masih melanjutkan mendaki lagi malam itu ke gunung Sumbing, benar-benar luar biasa.

to be continued...
[ ... ]

Gunung Sindoro, perjalanan naik yang melelahkan

Tanggal 8 Mei, hari sudah pagi, udara dingin, menurut kata orang supaya ga merasa dingin harus mandi, tapi siapa yang mau mandi dengan air yang sedingin es? Biarpun begitu aku tetap mencoba dinginnya air di badanku yang memang bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat. Rencana mau berangkat pagi ternyata tidak terwujud, semua terlambat, bingung packing barang untuk dibawa naik, dan juga terjadi sedikit kecelakaan. Waktu selesai makan pagi, eh mobil terperosok masuk ke got di pinggir jalan. Untung ada batu-batu besar di dekat situ, akhirnya dengan dibantu warga sekitar bisa jugalah keluar dari lubang got :p Alhasil, jam 10 baru bisa berangkat.



Mobil terperosok masuk got

Kembali ke pos Grasindo, kusempatkan mengambil beberapa gambar, lalu dengan mobil bersesak-sesak (total 6 orang plus barang-barang) berangkatlah mendaki. Sampai pos 1 perjalanan masih bisa ditempuh dengan mobil. Sepanjang perjalanan melewati banyak kebun tumbuh-tumbuhan sayangnya ga bisa memotret karena terjepit :p



Kegiatan warga penghuni kaki gunung





Pemandangan dari Pos 1

Turun di pos 1, aku dan Li Fang mulai berjalan duluan. Wah, ternyata berjalan sebentar saja sudah terasa lelah. Jadi pingin menertawakan diri sendiri karena hari sebelumnya sok-sokan. Sebentar-sebentar kami berhenti karena nafas terasa sesak kehabisan oksigen. Dari sini aku dah merasa beda banget dengan acara camping waktu ospekan dulu. Rasanya lama banget baru nyampe pos berikutnya, setelah nyampe, eh ga lama udah tersusul ama yang lain, payah banget hehe. Di pos 2 kami makan ransum kami kemudian lanjutin perjalanan.

Jalan yang semula lebar pun semakin lama semakin menciut dan berbatu-batu. Akhirnya aku pun tertinggal sendirian di belakang tersalip semuanya. Bahkan porter yang membawa beban segitu berat pun bisa berjalan lebih cepat daripadaku. :p



Jalan yang semula lebar





Semakin menciut & berbatu


Merasa sudah jauh ditinggalkan di belakang, ga tahu mesti berbuat apa, seperti kata Li Fang waktu dah ga bisa melihat orang berjalan di depan kita, bakalan merasa frustasi. Akhirnya aku pun duduk sambil memakan ransum yang tersisa di ranselku dan merenung memandang alam... Sejuk, hanya hamparan hijau... Dan di seberang sana, Gunung Sumbing yang tegak tinggi... Eh, enak-enaknya ngelamun, dipanggil ama ko Agustinus. Wah, dia belain turun lagi nyari diriku, siapa tahu aku menyerah pulang balik ke kampung kayak ceritanya Li Fang waktu ke Merapi hihihi. Jadinya keasyikanku melamun & merenung terganggu, aku pun melanjutkan perjalanan lagi menyusul mereka-mereka yang dah pada duduk nyante di pos 3.




Gunung Sumbing

Setelah itu perjalanan menjadi lebih berat karena jalan yang semakin menanjak. Selain itu sudah tidak bisa bersantai-santai lagi karena hari sudah mulai gelap, udara mulai dingin serasa menusuk tulang. Aku sudah tidak sempat mengambil foto lagi karena aku dikawal ko Agustinus (biar cepat kali yah). Tapi aku juga sudah bisa berpikir mau motret lagi, yang ada di pikiranku saat itu hanyalah "naik atau mati kedinginan di sini". Itu saja yang aku dengungkan di kepalaku mengiring tubuhku yang menggigil dan tanganku yang sudah menjadi sedingin es.

Akhirnya nyampe di Batu Tatah tempat mendirikan tenda, udah gelap banget, matahari sudah tak terlihat lagi. Setelah makan, aku hanya mau tahu meringkuk di balik sleeping bag karena dinginnya bukan main (plus satu hal yang memalukan karena aku hanya membawa satu celana jeans yang sudah basah ga karuhan :p). Malam itu pun tidak bisa tidur saking dinginnya...

To be continued....
[ ... ]